Memaknai Seni Baca dan Pengamalan Al Quran

Written By wartini cantika on Kamis, 02 April 2015 | 11.37

Iskandar, M.Hum, Dosen STAIN SAS BABEL/ Dosen tidak tetap STKIP MBB Al Qur'an merupakan mukjizat terbesar yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW dan hingga saat ini masih bisa dinikmati oleh seluruh umat manusia sampai akhir zaman nanti. Banyak kajian ilmiah yang telah dilakukan berbagai pakar keilmuan tingkat dunia yang hasilnya cukup mencengangkan. Dari hal yang nampak sangat remeh seperti jumlah kata hingga yang mesti seius ditekuni seperti teori galaksi yang ada dalam Al Qur'an. Oleh karena itu, bagi umat Islam tidak boleh menyisakan sedikitpun ruang keraguan dihatinya tentang petunjuk yang ada dalam kitab sucinya. Namun, saat ini setelah seribu empat ratus tahun terus diakrabi dan disanding dengan mesra, jiwa Al Qur'an terasa semakin jauh dari kehidupan umat Islam diseluruh dunia, tidak seperti pada masa awal sejarah umat Islam dimulai. Salahsatu bentuk jauhnya umat Islam dari Al-Qur'an adalah jarangnya orang membaca Al-Qur'an. Dirumah-rumah dan ditempat-tempat ibadah Al-Qur'an hanya sekedar pajangan dan berdebu tidak pernah dipegang. Namun apabila ada kematian, maka seseorang mencari Al-Qur'an untuk dibaca. Ini merupakan fenomena yang banyak terjadi di masyarakat. Kita menyadari perubahan karakter dan jiwa seseorang tidak terlepas dari kesiapannya melaksanakan perintah agamanya. Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak melepaskan diri dari Al-Qur'an dan hadis, namun kenyataannya sekarang banyak umat Islam yang tidak pandai membaca Al-Qur'an dan tidak pernah mengetahui hadis. Pada masa awal zaman Nabi Muhammad SAW dan era para sahabat, umat Islam tampak sangat dekat dengan jiwa Al-Qur'an. Para pemimpin negeri berpegang teguh dengan jiwa al-Qur'an dan Hadis dengan merepresentasikan Al-Qur'an dengan kenyataan dilapangan sebagai pemimpin negeri. Oleh karenanya Islam berkembang dengan pesat menyebar ke seluruh penjuru bumi mewartakan peradaban mulia yang bersumber pada Al-Qur'an. Umat Islam masa sekarang memang sudah berbeda dengan masa lalu, tantangan dan keadaan yang dihadapi sama sekali tidak sama dengan masa awal. Namun, sekompleks dan serumit apapun problem zaman yanag berkembang, seluruh umat Islam seharusnya tetap meyakini bahwa Al-Qur'an pasti akan mampu menjawabnya. Jika menelisik lebih jauh bahwa saat ini umat Islam nampak gagap dan terseok di ujung buritan peradaban tentu ada yang salah di dalam diri umat ini. Bukan disebabkan oleh Al-Qur'an yang tidak mampu menjawab perubahan zaman dan tidak ada yang salah dalam Al-Qur'an karena memang begitulah firman Allah mengingatkan umatnya, namun kemungkinannya adalah umat manusianya yang salah membaca dan memaknai Al-Qur'an dengan baik sehingga tidak dapat merefleksikannya dalam kehidupan nyata. Kita melihat fenomena para wanita membalut dirinya dengan berjilbab namun memakai pakai yang super ketat, menonjolkan lekukan tubuhnya dari atas hingga kebawah yang akhirnya mirip dengan wanita yang tidak berpakaian saja. Tentunya jiwa Al-Qur'an sangat jauh dari kehidupannya dan cenderung mudah melakukan hal-hal yang dilarang agama. Umat seperti ini hanya ingin melepaskan kewajiban membungkus aurat saja bukan menjiwai tuntunan menutup aurat. Saat ini diberbagai daerah Kabupaten dan Kota di Kepulauan Bangka Belitung sedang menyelenggarakan Seleksi Tilawatil Qur'an dengan seni baca yang baik sekali. Hal ini dilakukan dari berbagai tingkatan dan aturan yang telah disepakati. Tentunya pelestarian seni baca ini sangat penting karena bagi mereka yang menekuni seni baca Al-Qur'an setidaknya setiap hari akan membaca Al-Qur'an. Namun demikian, seni baca al-Qur'an yang bagus tersebut tentunya akan kehilangan makna jika al-Qur'an hanya sekedar dibaca saja dan tidak diamalkan. Selain dibaca, Al-Qur'an juga harus diajak berdialog dalam hal berunding untuk mencari solusi pemecahan berbagai masalah. Kita masih melihat bahwa walaupun setiap hari bersanding dengan Al-Qur'an, kebiasaan mengajak dialog dan berunding dengan Al-Qur'an dapat dikatakan belum menjadi kebiasaan umat Islam di Bangka Belitung. masyoritas umat Islam masih memperlakukan Al-Qur'an sebagai Kita Suci dan kitab sakti. Al-Qur'an diperlakukan bukan sebagai kitab yang berisi petunjuk yang harus dibaca dan dimaknai serta diajak berdialog dan berunding namun terkadang dipahami berisi mantra saktiyang hanya cukup dirapal (dibaca bergumam), ditulis pada secarik kain kecil dan dibungkus serta dibawa kemana-mana. Disisi lain, kita masih menemukan kebiasaan menjunjung tinggi Al-Qur'an tetapi dijalankan dengan apa adanya dengan meletakkannya ditempat yang paling tinggi sehingga sulit dijangkau bahkan dimasukkan dalam lemari dan dikunci. Demikian juga halnya sebagian umat Islam memang ada yang membaca Al-Qur'an setiap hari namun tidak disertai dengan maknanya. Mayoritas dari umat Islam merasa cukup puas karena akan mendapatkan pahala manakala denga membacanya saja. Kebiasaan tersebut kuranglah produktif. Bahkan dapat dikatakan tidak akan mendapatkan apa-apa kalau hanya menderas Al-Qur'an setiap hari dengan harapan cukup hataman berapa kali tanpa menelaah kandungan makna yaang tersimpan di dalamnya. Jika hal ini dilakukan sesungguhnya akan berakibat pada fenomena STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan). Artinya keber-Islam-an seseorang masih sebatas kulitnya saja. Seperti perilaku para artis yang selama bulan ramadhan khusyuk berjilbab dan beribadah namun setelah bulan syawal datang kembali buka-bukaan. Kita menyadari bahwa saat ini, selama beberapa generasi terakhir, pengajaran tentang Islam hanya serba pada kulitnya saja. Islam yang diwartakan, selalu Islam yang tampak bergebyaran belaka namun miskin makna. Mayoritas umat Islam terpesona oleh kenikmatan ibadah namun lupa membangun akhlak. Hal ini dapat kita lihat bagaimana para pemimpin negeri mempertontonkan "syahwat berkuasa" yang tidak sesuai dengan Al-Qur'an yang dibacanya, adanya kasus jual beli kursi haji, menyuap petugas haji agar bisa berangkat haji dengan cepat, korupsi Al-Qur'an, menyuap rakyat agar dapat terpilih menjadi wakil rakyat dan pemimpin di daerahnya, jual beli hukum dan masih banyak lagi sikap dan perilaku masyarakat yang mengaku Al-Qur'an sebagai kitab sucinya namun akhlaknya tidak mencermin kehidupan dari Al-Qur'an itu sendiri. Perilaku seperti ini masih terjadi dan sedang berlangsung di negeri yang Berketuhanan yang Maha Esa ini. Semoga dengan adanya semarak kegiatan seni baca melalui Seleksi Tilawatil Qur'an setidaknya dapat mengingatkan kembali jiwa Al-Qur'an dan merefleksikan dalam kehidupan dengan selalu berdialog pada Al-Qur'an untuk dapat mencerahkan kehidupan manusia di Kepulauan Bangka Belitung ini. (*)


Anda sedang membaca artikel tentang

Memaknai Seni Baca dan Pengamalan Al Quran

Dengan url

http://bangkabarita.blogspot.com/2015/04/memaknai-seni-baca-dan-pengamalan-al.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Memaknai Seni Baca dan Pengamalan Al Quran

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Memaknai Seni Baca dan Pengamalan Al Quran

sebagai sumbernya

0 komentar:

Poskan Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger