Manajemen Buruk Kader Membelot

Written By Unknown on Minggu, 25 Mei 2014 | 11.37

"Saya lihat elite politik kita tidak tahan akan godaan kekuasaan. Padahal seharusnya jangan jadikan kekuasaan segala-galanya" Syamsudin Haris, Penagamat LIPI

JAKARTA, BANGKA POS - Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsudin Haris membelotnya para kader partai diakibatkan karena buruknya manajemen partai politik itu sendiri. Menurutnya, hal itu yang membuat terbelahnya dukungan dan mengakibatkan suara akan pecah.
"Keterbelahan politik atau membelotnya kader karena manajemen internal masing-masing partai tidak terbuka," kata Haris dalam diskusi yang diselenggarakan Populi Center dan Radio Smartfm 95.9 di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (24/5).
Haris menuturkan, untuk alasan kedua yang membuat kader membelot adalah adanya kepentingan jangka pendek dari para elite partai. Kepentingan jangka pendek itu menurutnya adalah ditawarkan posisi strategis oleh kubu yang berlawanan dengan partainya seperti jadi menteri, jaksa agung atau lainnya.
"Saya lihat elite politik kita tidak tahan akan godaan kekuasaan. Padahal seharusnya jangan jadikan kekuasaan segala-galanya," ujarnya.
Seperti diketahui ada politisi yang membelot yakni tidak kompak memberikan dukungan kepada Capres-Cawapres yang telah ditunjuk partainya. Nama-nama yang membelot ke kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa misalnya politisi PKB Mahfud MD dan Rhoma Irama. Sementara dari partai Hanura ada Fuad Bawazier dan Hary Tanoesoedibjo.
Sedangkan mereka yang membelot ke kubu Joko Widodo-Jusuf Kalla adalah politisi Golkar Fahmi Idris, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Litbang Golkar Indra J Piliang. Dari Partai Amanat Nasional (PAN) Wanda Hamidah juga dukung Jokowi-JK.
Dukungan terhadap pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang diusung suatu partai tidak bulat.
Hal itu terlihat dari banyaknya paraa politisi yang tidak sejalan dengan keputusan partai, dimana mereka mendukung Capres-Cawapres di kubu lawan.
Selain itu, Haris menilai terbelahnya dukungan antara elite politik dan sikap partai tak mempengaruhi massa pendukung. Menurutnya, terbelahnya dukungan hanya terjadi di elite partai.
"Perpecahan atau keterbelahan dukungan Capres-Cawapres lebih pada level elite partai saja," kata Haris.
Haris menuturkan, massa pendukung di akar rumput telah memiliki pilihan sendiri. Jadi meskipun tokoh yang mendukung tidak mendukung Capres-Cawapres yang berseberangan dengaan partainya tidak berpengaruh signifikan.
"Massa pendukung di akar rumput punya pilihan sendiri," tuturnya.
Seperti diketahui nama-nama yang membelot ke kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa adalah politisi PKB Mahfud MD dan Rhoma Irama. Sementara dari partai Hanura ada Fuad Bawazier dan Hary Tanoesoedibjo.
Sedangkan mereka yang membelot ke kubu Joko Widodo-Jusuf Kalla adalah politisi Golkar  Fahmi Idris, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan.
Kemudian,  Kepala Badan Litbang Golkar Indra J Piliang. Dari Partai Amanat Nasional (PAN) Wanda Hamidah juga dukung Jokowi-JK. (tribunnews)


Anda sedang membaca artikel tentang

Manajemen Buruk Kader Membelot

Dengan url

http://bangkabarita.blogspot.com/2014/05/manajemen-buruk-kader-membelot.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Manajemen Buruk Kader Membelot

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Manajemen Buruk Kader Membelot

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger