Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Pusaran Angin Membuat Panik PNS

Written By Unknown on Selasa, 02 September 2014 | 11.37

KOBA, BANGKA POS - Pusaran angin cukup besar di halaman kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Bangka Tengah (Bateng), Senin (19/6) sekitar pukul 12.05 WIB, sempat menghebohkan para PNS di dinas tersebut dan sejumlah wartawan.  

"Ngeri juga melihatnya. Sempat kami pikir angin akan terus membesar dan menghantam kantor. Sejumlah PNS juga sempat panik kami lihat tadi," kata seorang wartawan, Roni, saat ditemui di kantin dekat kantor Disbudparpora Bateng, kemarin.

Senada dikatakan, Rachmat, wartawan televisi lokal. Dia mengaku sempat mengabadikan pusaran angin itu dengan kamera.

"Pokoknya tingginya sekitar 15 meterlah. Mulainya kecil, anginnya berputar-putar, terus besar-besar dan kemudian sekitar dua menit menghilang. Untung tidak apa-apa. PNS yang bertugas di Disbudparpora sempat menghindar lari dari tiupan angin tersebut," beber Rachmat. (zky)


11.37 | 0 komentar | Read More

PS Bangka Silaturahmi Ke Pemkab Basel

Laporan wartawan Bangka Pos, Ajie Gusti Prabowo

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pemain dan official PS Bangka mengunjungi pemerintah kabupaten Bangka Selatan dalam rangka silahturahmi menuju pertandingan pertama di Stadion Junjung Besaoh si Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Selasa (2/9/2014).

"Pertemuan dengan Bupati Basel Jamro H. Jalil dalam rangka memberikan motivasi pertandingan sore ini," ungkap Sekretaris Pendidikan, Edi Supriyadi kepada Bangkapos.com, Selasa.

Ia menambahkan, Bupati Basel berharap kepada pemain PS Bangka dapat memenangkan pertandingan serta bermain dengan lancar dan fair play.

Turut hadir pula ketua PSSI kabupaten Basel, Ahmad Damiri dan pejabat SKPD di Pemkab Basel.

Simak berita lengkapnya di Bangka Pos / Pos Belitung / Koran BN edisi cetak.


11.37 | 0 komentar | Read More

Perempuan Ini Tanggapi Bantahan Gubernur

BANGKAPOS.COM, PEKANBARU- Perempuan yang melaporkan Gubernur RiauAnnas Maamun ke polisi, Wide Wirawaty, dalam kasus dugaan kejahatan pelecehan seksual dan asusila, membantah ada motif pemerasan maupun politik yang melatarbelakangi dirinya mengadukan orang nomor satu di Provinsi Riau itu ke penegak hukum.

"Ini murni, tak ada sedikit pun unsur-unsur politik dan pemerasan," kata Wide melalui pesan singkat yang diterima Antara di Pekanbaru, Senin (1/9/2014) sore.

Putri kelima dari tokoh pendidikan Riau dan mantan anggota DPD RI Soemardi Thaher itu menyatakan berani mengadukan Gubernur Riau ke polisi demi mewakili para perempuan yang diduga sudah dizalimi dan ternodai oleh terlapor.

"Perjuangan saya murni didasari nurani seorang wanita agar tidak ada lagi korban-korban kebejatan Annas Maamun selanjutnya," tegasnya.

Untuk mempertanggungjawabkan tindakannya, ia menyatakan siap diuji dengan alat deteksi kebohongan dan karena itu Wide juga meminta sang Gubernur pun mau untuk melakukan hal yang sama.

"Saya juga siap melakukan sumpah dan menantang AM (Annas Maamun) untuk sumpah bersama-sama di dalam Masjid Istiqlal Jakarta, dihadiri para ulama terkemuka dan Menteri Agama, serta tokoh-tokoh Riau," ujarnya.

Disumpah pakai Al Quran

Pada hari yang sama Kepala Biro Humas Setda Prov Riau, Joserizal Zen, mengatakan Gubernur Riau Annas Maamun membantah tuduhan telah melecehkan Wide Wirawaty.

Joserizal mengaku telah menanyakan perihal kasus dugaan asusila itu kepada Annas Maamun saat rapat pembahasan APBD Perubahan di kediaman Gubernur Riau di Pekanbaru, Senin siang.

"Ketika saya tanyakan kebenaran kasus itu, Gubernur menyebutkan tidak melakukannya. Itu fitnah," kata Joserizal Zen menirukan perkataan Gubernur Anas Maamun.

Menurut dia, Annas mengatakan, kabar tentang kasus asusila tersebut telah sampai juga ke istrinya Latifa Hanum dan membuat pasangan suami-istri itu bersitegang.

"Gubernur mengatakan ia sampai harus bersumpah pakai Al Quran di depan istirinya," kata Joserizal.

Menurut dia, isu asusila itu sebenarnya mulai merebak sejak dua bulan lalu dan semenjak itu gubernur menginstruksikan kepada jajarannya untuk tidak sembarangan menerima tamu perempuan.

"Sejak adanya berbagai isu ini Pak Gubernur sejak bulan lalu melarang kami untuk menerima tamu perempuan sendiri. Harus dengan suami, karena nanti menimbulkan fitnah," ujarnya.

Joserizal mengatakan, Gubernur akan mempelajari kasus yang telah dilaporkan ke polisi itu, dan menyatakan siap menjalani proses hukum. "Beliau juga mempertimbangkan untuk melakukan proses hukum selanjutnya karena ini sudah menyangkut personal," ujarnya.

Ia menilai kasus tersebut kemungkinan dipicu karena ada pihak yang tidak senang dengan kebijakan rasionalisasi anggaran Annas Maamun yang memangkas sebagian besar proyek di APBD Riau 2014 karena dinilai anggarannya tidak wajar. "Mungkin ada yang tidak suka dan merasa terzalimi," ujarnya.

Gubernur dilaporkan berbuat asusila

Sebelumnya, Soemardi Thaher ayah dari Wide Wirawaty mengatakan, anaknya telah melaporkan Gubernur Riau Annas Maamun ke polisi karena dugaan kasus asusila. Berdasarkan Tanda Bukti Lapor, Wide Wirawaty melapor ke Bareskrim Polri pada 27 Agustus 2014 dengan laporan polisi Nomor LP/797/VIII/2014/Bareskrim dengan terlapor Gubernur Riau Annas Maamun.

Perkara yang dilaporkan adalah tindak pidana dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan.

Selain itu, Soemardi Thaher juga mengatakan, setelah kejadian tindakan asusila tersebut, muncul berbagai bentuk tindakan Annas Maamun lainnya sebagai upaya menutupi kasus tersebut, tetapi hal itu malah memperkuat bukti bahwa tindakan asusila itu benar adanya.

Soemardi mengatakan, Wide memiliki rekaman pembicaraan telepon dengan Annas yang mengatakan ada orang yang mengaku meminta uang Rp 4 miliar ke Gubernur dengan mengancam kasus ini akan dibuka ke publik.

"Kasus ini dibiaskan menjadi kasus pemerasan dan unsur politik untuk menjatuhkan Gubernur. Tapi itu akal-akalan dia (Annas) saja. Kalau saya yang meminta uang itu, laporkan saya kepada polisi. Atau kalau Wide yang meminta, polisikan saja dia," tegas Soemardi.


11.37 | 0 komentar | Read More

Peran Laboratorium dalam Pengamatan Penyakit Menular

Meiristia Qomariah, SKM, M. Epid, PNS di Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan  Bangka Belitung dan Anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia

Belum hilang kekhawatiran kita oleh kemunculan penyakit menular Avian Influenza A subtype H5N1 atau yang dikenal masyarakat dengan flu burung, akhir-akhir ini dunia termasuk Indonesia diresahkan dengan penyakit yang bernama Ebola. Sementara itu penyakit klasik menular perantara vektor nyamuk seperti Malaria, Demam Berdarah Dengeu tetap eksis memberikan konstribusi masalah kesehatan masyarakat serius sampai ini dengan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkannya masih cukup tinggi.
Masalah penyakit infeksi yang "baru" terdeteksi oleh manusia dan penyakit yang tadinya "sudah terkendali" namun kemudian meningkat kembali  sudah dibicarakan sejak awal tahun 1990-an, dan diprediksi akan menjadi masalah global di masa mendatang. Kelompok New Emerging Infectious Diseases (NEID) antara lain Avian Influenza (2004), SARS (2003), West Nile Virus (1999), Nipah Virus (1999), Hantaan virus (1977), Legionella pneumophilla (1977), Ebola virus (1977), Hepatitis C (1989), dan lain sebagainya. Kelompok Re Emerging Infectious Diseases (REID) antara lain Cholera, Diphtheria, Malaria, Tuberkulosis, Japanese Encephalitis, Rift Valley Fever, Dengue Fever, DHF, dan lain sebagainya.
Penyebab penyakit menular yang tergolong "baru"  dan " sudah terkendali" namun meningkat kembali sebagian besar bahkan dominan disebabkan oleh agent/penyebab penyakit yang dinamakan bakteri dan virus. Penularan penyakit antar manusia yang terjadi bisa melalui udara , air , melalui vektor seperti nyamuk, lalat. Selain itu bisa terjadi penularan dari hewan ke manusia atau manusia ke hewan  seperti: Avian Influenza, Japanese Encephalitis, Rabies. Dalam penegakkan diagnosisnya tidak cukup hanya melalui pemeriksaan klinis oleh dokter namun perlu didukung oleh pemeriksaan laboratorium kesehatan yang memadai.

Surveilan penyakit menular
Penyakit menular dalam upaya pengendaliannya perlu didukung oleh sistem pengamatan penyakit yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan atau dikenal dengan istilah surveilan penyakit . Surveilan penyakit adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit/masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit/masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan, analisis dan penyebaran informasi (diseminasi) (Depkes 2003) .
Surveilan penyakit diselenggarakan dengan tujuan agar tersedianya data dan informasi epidemiologi sebagai dasar manajemen kesehatan untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program kesehatan dan peningkatan kewaspadaan serta respon kejadian luar biasa yang cepat dan tepat. Data penyakit yang dikumpulkan bisa penyakit menular maupun penyakit tidak menular tergantung jenis penyakit yang dianggap atau diprioritaskan untuk dilakukan pengamatan.
Surveilan penyakit menular dalam pengumpulan data dapat bersumber dari pencatatan/ register Puskesmas, Rumah Sakit dan Laboratorium. Diagnosa klinis maupun diagnosis yang ditunjang oleh pemeriksaan Laboratorium menjadi data dasar dalam pengamatan penyakit. Namun seiring banyaknya penyakit menular yang tidak memiliki gejala khas sehingga sulit dibedakan gejala klinis antar penyakit, maka pemeriksaan laboratorium sangat mutlak diperlukan dalam penegakkan diagnosis  yang benar dan akurat (konfirm). Sebagai contoh antara penyakit malaria dan demam typhoid memiliki gejala klinis yang sama antara lain: panas, muntah, nyeri perut sehingga untuk menghindari kesalahan dalam penegakkan diagnosis, seorang dokter memerlukan pemeriksaan laboratorium.
Penegakkan diagnosis yang benar dengan konfirmasi laboratorium sangat penting dalam pemberian terapi yang tepat dan data penyakit yang dikumpulkan benar-benar akurat guna analisis dan rekomendasi intervensi yang dihasilkan dari kegiatan pengamatan penyakit guna pemecahan permasalahan kesehatan.

Peran laboratorium
Seiring dengan perkembangan penyakit menular yang muncul dan menjadi masalah global dan nasional saat ini yang dominan disebabkan oleh virus dan bakteri, menjadikan peran laboratorium sangat besar dalam penentuan penyebab pasti penyakit. Kemampuan laboratorium dalam mengidentifikasi penyebab penyakit dari golongan bakteri dan virus harus dilengkapi komponen pemeriksaan antara lain mikrobiologi, virologi, dan immuno serologi.
Pada umumnya kemampuan dalam pemeriksaan penyebab penyakit dari golongan bakteri dan virus kurang dimiliki laboratorium daerah karena keterbatasan sarana prasarana prasarana dan kurangnya sumber daya manusis (SDM) yang terampil dalam melakukan pemeriksaan tersebut termasuk di daerah kita Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebagai contoh dari kegiatan pengamatan penyakit menular yang dilakukan petugas surveilan di Puskesmas maupun Kabupaten/Kota terjadi peningkatan kasus yang dilihat dari gejala klinisnya diduga dikarenakan virus campak (suspek campak).
Untuk membuktikan dugaan penyebab penyakit tersebut sampai saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melalui Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung harus mengirim sampel darah yang diambil dari penderita untuk diperiksakan ke Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan milik Kementerian Kesehatan RI di Jakarta. Begitu juga untuk pembuktian pasti penyakit lain seperti difteri, sampai saat ini para dokter hanya bisa menegakkan diagnosis kasus melalui gejala klinis.  
Hal ini dikarenakan kita di daerah belum memiliki sarana dan prasarana pemeriksaan mikrobiologi untuk melakukan isolasi bakteri "Corynebacterium diphtheria" penyebab difteri dan laboratorium immuno serologi untuk pemeriksaan virus campak.
Masih kurangnya kemampuan dan keterbatasan laboratorium daerah dalam penentuan penyakit, menyebabkan penentuan pasti penyebab/agent penyakit sulit dilakukan. Sehingga para klinisi/dokter sering memberikan diagnosa dugaan yang terkesan kurang pasti atau dikatakan sebagai "suspek" untuk beberapa penyakit menular yang tidak didukung pemeriksaan laboratoriumnya. Dalam kegiatan pengamatan/surveilan penyakit menular, hal ini akan mengakibatkan terkendalanya upaya penanggulangan dan pengendalian apabila kasus "suspek" ini mengalami peningkatan jumlah dalam kurun waktu tertentu dan mengarah pada kejadian Luar Biasa (KLB).
Hal ini dikarenakan untuk mengetahui penyebab pasti sebagai salah satu dasar penetapan KLB, daerah harus melakukan pengiriman sampel guna diperiksa ke laboratorium rujukan yang ditunjuk, sehingga hasil tidak dapat diperoleh segera  karena memerlukan waktu mulai dari pengambilan sampel, pengiriman, pemeriksaan sampai diketahuinya hasil. Ini mengakibatkan penanggulangan dan pengendalian penyakit yang menimbulkan Kejadian Luar Biasa tidak bisa dilakukan secara tepat dan cepat (< 1 x 24 jam) sejak kasus ditemukan sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular.
Memperhatikan pentingnya peran laboratorium dalam pengamatan penyakit menular dengan diagnosis pasti, maka pemerintah daerah perlu mengembangkan dan meningkatan sarana prasarana dengan kuantitas dan kualitas SDM laboratorium daerah yang memadai melalui dukungan prioritas kebijakan dan anggaran.
Sehingga, upaya penanggulangan dan pengendalian penyakit menular terutama yang menjadi permasalahan lokal daerah dapat dilakukan secara cepat dan tepat karena daerah telah mampu mengidentifikasi sendiri penyebab penyakit tanpa harus mengirim dan menunggu hasil pemeriksaan dari laboratorium rujukan milik pemerintah pusat. Jika kedepan hal ini mampu dilakukan, akan semakin menunjukkan kemandirian daerah dalam sektor kesehatan.(*)

Simak berita lengkapnya di Bangka Pos / Pos Belitung / Koran BN edisi cetak.


11.37 | 0 komentar | Read More

Opini: Politik Jiwa Besar

Ibrahim, Dosen FISIP Universitas Bangka Belitung Aktif di The Ilalang Institute

Dua Pemilu belakangan, Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden, sungguh telah menghadirkan sesuatu yang amat nyata bagi bangsa ini, yakni miskinnya komitmen politik dan semakin tergusurnya nilai-nilai etika politik. Jika sebelum Pemilu semua pihak beramai-ramai mendeklarasikan diri sebagai kandidat yang siap menang dan siap kalah, maka pasca Pemilu banyak pihak yang tak puas dan kemudian mengambil langkah-langkah yuridis.
Pada Pemilu legislatif, kontestasi berjalan amat hebat, tentu yang lebih kencang adalah kontestasi di tingkat internal partai politik. Para kandidat dalam satu partai hanyut dalam persaingan yang lebih cenderung kurang sehat ketimbang sebuah politik kedewasaan. Banyak kandidat yang menempatkan kontestasi sebagai harga tertinggi, termasuk untuk mendelegitimasi sesama kontestan dalam satu partai politik.
Dalam beberapa kasus, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa kampanye dengan duet antarpartai lebih disukai ketimbang duet internal partai. Kawan sesama partai dianggap sebagai saingan yang lebih berbahaya. Sampai di sini, kontestasi di legislatif mengajarkan kita betapa masih miskinnya kualitas berdemokrasi para politisi kita. Meski demikian, tentu tak dapat dipungkiri kemajuan di berbagai sisi mengenai semakin matangnya sebagian besar sikap politik para reprsentator kita.
Di beberapa tempat, kontestasi di internal partai tak jarang berujung pada gugat-menggugat. Bahkan karena tipisnya selisih kemenangan, tak jarang petugas PPK dipaksa untuk menghitung ulang suara. Situasi ini sekaligus menunjukkan betapa rapuhnya sistem kepercayaan dalam penyelenggaraan Pemilu kita. KPU, di berbagai jenjang dianggap tak imbang karena memenangkan satu pihak. Pernyataan lucu karena KPU sebagai penyelenggara tak mungkin menunjuk pemenang lebih dari satu.
Potret buram berikutnya dapat disaksikan melalui drama panjang Pilpres. Deklarasi siap menang dan siap kalah hanya menjadi jargon seremonial manakala hasil sudah diumumkan. Tudingan curang, terstruktur, dan massif berujun pada tuntutan ke MK memporak-porandakan bangunan politik bernama komitmen kebangsaan. Komitmen untuk menerima hasil Pemilu, apapun hasilnya, nyatanya dipakai hanya sekedar sebagai modal untuk menimbulkan kepercayaan publik atas kebesaran jiwa. Kini, MK telah memutuskan bahwa Pilpres dapat diterima. DKPP pun telah umumkan kepada publik mengenai pelanggaran etik yang dilakukan, namun tak sampai merubah hasil Pilpres. Setelah kedua lembaga tertinggi dalam Pemilu itu mengeluarkan hasilnya, lembaga hukum apalagi yang dibayangkan akan menjadi tempat pengaduan.
Mahkamah politis pun siap digelar. Partai-partai politik pengusung salah satu pasangan yang kalah siap untuk membentuk Pansus Pilpres. Tudingan bahwa kecurangan secara terstruktur, massif, dan sistematis tetap dialamatkan. Kini pengadilan politik menanti. Pengadilan yang dibayangkan bersemayam di balik jubah para hakim dianggap tidak lebih baik daripada jubah parlemen yang diisi oleh orang-orang yang pintar dan hasil pilihan rakyat. Jika ini betul terjadi, maka sungguh dagelan politik sedang terjadi di negeri ini.
Setidaknya ada dua modal utama yang harus dimiliki oleh para politisi agar dapat menjadi politisi bermanfaat bagi negeri ini, yakni komitmen etik politik dan dorongan untuk berbuat kebaikan. Komitmen politik tersebut salah satunya ditampakkan dengan keteguhan untuk memegang komitmen yang sudah dijadikan sebagai slogan. Jika memang siap menang dan siap kalah, maka ketika kalah yang bersangkutan harus ikhlas menerima kekalahan tersebut.
Betul bahwa potensi dan aktus Pemilu tak memungkinkan kesempernaan, namun ketika kesalahan kecil dianggap sebagai penyebab kekalahan, disinilah komitmen politik sedang diuji. Yang lebih sering terjadi adalah ketika seorang politisi bertarung, ia kerap tak menyadari bahwa ia memang tak menjadi pilihan mayoritas.
Kedua adalah mengenai hasrat untuk berbuat baik. Seorang politisi yang memang sejak awal berhasrat pada kebaikan, pastilah ia akan menjalani kontetasi dengan penuh elegansi, komitmen kebenaran, termasuk menghindari cara-cara keji untuk memenangkan dirinya. Selebihnya, manakala ia menang, maka ia pun akan fokus pada pengabdian yang terbaik.
Masyarakat kini punya tugas berat. Pertama adalah bagaimana memastikan legislator tersebut memegang komitmen politisnya dan kedua adalah bagaimana memastikan para legislator yang terpilih betul-betul bekerja untuk masyarakat banyak.
Perjalanan panjang dua Pemilu terakhir mengajarkan pada kita bahwa komitmen untuk sama-sama menciptakan politik yang santun masih menjadi barang mewah di negeri ini. Oleh karena itu, publik harus dengan sendirinya mengoreksi perilaku yang demikian. Caranya sangat sederhana, yakni memberikan takaran pada politisi yang berkontestasi. Jika menilai mereka tak siap kalah, maka tentu publik harus mempertimbangkan keputusan politiknya. Jangan sampai, publik yang menjadi partisan kemudian hanya menjadi sarana adu domba, lebih tepatnya diperalat untuk ambisi kekuasaan semata.
Tugas kedua yang tak kalah penting adalah bagaimana memastikan bahwa legislator yang terpilih memang akan bekerja. Kini publik dapat mengakses kinerja mereka dan jaminannya adalah regulasi keterbukaan informasi publik. Dewan yang nyata-nyata tidak bekerja harusnya tidak lagi dipilih pada Pemilu mendatang.
Tugas publik luas dengan demikian tidak hanya memastikan bahwa kandidat yang dipilih memang adalah kandidat yang mumpuni, tetapi juga memastikan bahwa mereka memang bekerja. Publik tak boleh permisif terhadap proses politik karena bagaimanapun para politisi umumnya selalu piawai menghipnotis publik dengan retorikanya. Dibutuhkan kerja-kerja tambahan untuk memastikan bahwa mereka yang terpilih memang layak untuk dipilih.
Provokasi yang kerapkali muncul sesungguhnya hanyalah cara-cara tersirat untuk memastikan bahwa dukungan ambisi masih ada. Oleh karena itu, semua pihak sebaiknya tidak terprovokasi oleh mereka yang hanya haus kekuasaan. Bagaimanapun publik hanya akan menjadi korban atas proses politik yang berlarut-larut.
Belajar dari pengalaman Thailand, ekonomi negara ini memburuk setelah proses politik terus mengalami kebuntuan. Publik mereka didesain saling berhadap-hadapan dan resikonya tentu adalah kerugian di pihak publik. Ketika para politisi bertengkar, para pendukung akan larut. Setelah, tetap saja publik luas yang akan dirugikan. Perekonomian akan lumpuh, belum lagi inefisiensi di banyak sektor.
Menyongsong kehadiran para legislator baru, maka pilihan paling tepat saat ini adalah menanti prestasi kerja mereka. Di parlemen, lebih kurang 40-an % adalah wajah lama, artinya peluan bagi perubahan bersandar di pundak wajah baru. Mari menyambut kehadiran mereka, memantau, dan tentu memberikan penilaian kepada mereka.
Menyongsong kehadiran Presiden dan Wakil Presiden baru, pilihannya adalah bagaimana menciptakan suasana kondusif di tengah-tengah masyarakat pendukung. Masyarakat dituntut untuk bijak menyambutnya, tentu dengan derajat kewaspadaan yang tinggi untuk tetap mengkritisi dan mematut-matut jalannya pemerintahan.
Kontestasi politik telah usai. Yang tertinggal sekarang adalah dukungan untuk saling membantu. Masyarakat yang sempat terbelah harus merajut kohesi sosial kembali. Politisi terbaik telah diantar, giliran berikutnya adalah memantau mereka. Permusuhan karena perbedaan pandangan dan pilihan politik sudah harus disudahi. Kontetasi hanyalah sebuah cara untuk memilih, bukan hakikat dari kehidupan. Mari bijak menyambut wajah-wajah baru politisi kita; wajah-wajah yang penuh vitalitas untuk bekerja. (*)

Simak berita lengkapnya di Bangka Pos / Pos Belitung / Koran BN edisi cetak.


11.37 | 0 komentar | Read More

Resha Berburu Foto Sebelum Matahari Terbit

MATAHARI belum terbit ketika fotografer Bangka Pos Resha Juhari sibuk hilir mudik mencari obyek foto di perkuburan Sentosa, Semabung, Pangkalpinang. Saat itu, 5 April 2014, perkuburan Tionghoa ini ramai peziarah yang sedang melakukan cheng beng atau sembahyang kubur.
Resha harus berpacu dengan waktu karena tenggang waktu yang tersedia untuk memotret sangat singkat. Ia mengincar suasana perkuburan yang diterangi temaram cahaya ribuan lilin yang dinyalakan para peziarah. Resha pun mengatur kameranya agar memungkinkan memotret di bawah pencahayaan minim.
"Kesulitan dalam pengambilan foto waktu Cheng Beng adalah minimnya cahaya karena di kuburan masih gelap, harus memakai setelah ISO tinggi di kamera untuk menghindari efek goyang pada foto. Saya harus bergegas karena lewat pukul 06.00, saat matahari sudah naik dan terang, cahaya dari lilin perkuburan tidak akan terlihat. Nuansa biru pagi akan hilang," kenang Resha, Senin (1/9) kemarin.
Kamera yang dibawa Resha adalah Canon 7D yang dilengkapi lensa tele zoom Canon 70-200 f2.8. Piranti yang ia pergunakan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan foto di Bangka Pos. Sesekali ia beranjak membawa kamera yang bobotnya lumayan berat itu ke dataran tinggi di Perkuburan Sentosa dan juga menyelinap di antara peziarah yang sedang khusuk melaksanakan sembahyang kubur.
Ratusan foto ia hasilkan dari berbagai obyek menarik pada Cheng Beng di Perkuburan Sentosa. Dari sekian foto tersebut, hanya satu foto yang terpilih untuk masuk ke halaman 1 Bangka Pos edisi 6 April 2014.
Beberapa waktu berselang, Resha mendapat informasi Lomba Foto Astra 2014 yang diselenggarakan PT Astra International Tbk. Tema lomba adalah `Inilah Indonesiaku!' yang terdiri dari dua kategori yakni bagi masyarakat umum dan jurnali. Peserta disyaratkan mengumpulkan foto melalui website foto.satu-indonesia.com mulai tanggal 1 April hingga 31 Juli 2014. Lomba foto ini diikuti ribuan peserta.
Resha memilih mengirim dua foto yaitu foto seorang bocah memegang bendera serta sebuah foto perayaan Cheng Beng di Perkuburan Sentosa Pangkalpinang yang ia potret tanggal 5 April 2014 dini hari.
Foto berjudul Warna Warni Cheng Beng inilah yang rupanya merebut hati juri, mengalahkan karya fotografer dari media nasional dan internasional lainnya yang menjadi peserta Lomba Foto Astra 2014.
"Pengumuman pemenang 1 September 2014. Sebelumnya, tanggal 19 Agustus saya mendapat kiriman email, diberitahu sebagai finalis Lomba Foto Astra 2014. Dalam email disebutkan untuk menyiapkan foto asli," kata Resha di sela sarapan pagi nasi uduk tak jauh dari Kantor Bangka Pos.
Senin (1/9) pagi kemarin, Resha yang tinggal di daerah Opas, Pangkalpinang baru saja bangun tidur ketika mendengar nada notifikasi BlackBerry Mesenger (BBM) dari smartphone miliknya. Sebuah pesan datang dari seorang teman, sesama penyuka fotografi.
"Teman saya BBM, isinya saya juara lomba foto. Juara dua katanya. Saya tidak percaya lalu ngecek di internet. Ternyata, Alhamdulillah benar, hadiahnya motor Honda Scoopy," kata Resha sembari tersenyum.
 Panitia Lomba Foto Astra 2014 menyiapkan hadiah utama berupa Honda CBR 150, Honda Scoopy FI Classic bagi Resha yang menjadi juara kedua serta kamera Canon EOS MKit III untuk juara ketiga. Sedangkan juara harapan yang jumlahnya dua orang mendapat hadiah kamera Nikon Coolpix dan 10 pemenang juara favorit memperoleh kamera Canon Powershoot.
"Saya nggak menyangka, ini di luar perkiraan karena yang lain fotonya bagus-bagus," ujar Resha. (day)

Lomba Foto Astra 2014
Link : http://foto.satu-indonesia.com/pemenang
Pemenang Kategori Wartawan:
1. A A Gede Agung Parameswara (Bali Buzz)
2. Resha Juhari (Bangka Pos)
3. Sumaryanto (Media Indonesia)
Juara Harapan: Isra Triansyah (Koran Sindo) & Sofyan Effendi (Area Magazine)


11.37 | 0 komentar | Read More

Pelantikan DPRD Babar Tunggu SK Gubernur

Written By Unknown on Jumat, 29 Agustus 2014 | 11.37

Laporan Wartawan Bangka Pos Riyadi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pelantikan Anggota DPRD Kabupaten Bangka Barat, jadwal kapan akan dilaksanakan, belum ada kepastian, apakah akan dilaksanakan tanggal 17 September nanti atau sebelum bahkan sesudahnya.

Sekretariat DPRD Kabupaten Bangka Barat, saat ini masih menunggu SK Gubernur Kepulauan Babel tentang peresmian, pemberhentian dan pengangkatan anggota DPRD Kabupaten Bangka Barat masa bakti 2014-2019.

"Kalau pas 5 tahun, peresmian tanggal 17 September, seyogyanya (pelantikan) tanggal tersebut, tepat 5 tahun memangku tugas," kata Sekretaris DPRD Bangka Barat M Soleh kepada bangkapos.com, Jumat (29/8/2014).


11.37 | 0 komentar | Read More

Semua Penduduk Kota Ini Adalah Wanita

BANGKAPOS.COM, BRASILIA — Sebuah kota kecil, Noiva do Cordeiro, Menas Gerais, Brasil, memiliki 600 orang penghuni yang seluruhnya adalah perempuan, yang menurut banyak kalangan memiliki paras yang cantik.

Para perempuan warga kota ini berusia 20-35 tahun. Mereka kini merindukan kehadiran para pria lajang, yang bersedia tinggal di kota itu dengan aturan para perempuan.

Sebagian para perempuan ini memang sudah menikah. Namun, para suami mereka bekerja jauh dari kampung halamannya dan hanya boleh kembali pada akhir pekan.

Sementara itu, para anak laki-laki diminta meninggalkan kota itu saat berusia 18 tahun dan tak ada pria lain yang diizinkan tinggal di kota yang terletak di sebuah lembah terpencil, sekitar 96 kilometer dari kota Belo Horizonte.

Kota ini berdiri pada 1890-an, saat seorang perempuan muda bernama Maria Senhorinha de Lima dan keluarganya dikucilkan oleh gereja Katolik setempat karena dituduh berbuat zina.

Perlahan-lahan, semakin banyak perempuan lajang dan para ibu bergabung dengan komunitas itu. Pada 1940, seorang pendeta Anisio Pereira memperistri seorang perempuan muda berusia 16 tahun dan mendirikan gereja di komunitas itu.

Namun, pendeta Anisio kemudian menerapkan aturan ketat, yaitu melarang warga minum minuman keras, mendengar musik, memotong rambut, atau menggunakan alat kontrasepsi.

Ketika pendeta Anisio meninggal dunia pada 1995, para perempuan ini memutuskan untuk tidak lagi membiarkan pria mendikte kehidupan mereka. Salah satu hal pertama yang mereka lakukan adalah membubarkan organisasi keagamaan yang dianggap bias jender.

Kini, para perempuan yang berkuasa di kota kecil itu. Mereka mengerjakan semua hal sendiri, mulai dari bertani, merencanakan pembangunan kota, hingga ritual keagamaan.

Namun, warga Noive de Cordeiro menghadapi satu masalah utama, yaitu meski para perempuan ini berparas cantik, mereka kesulitan mencari pasangan hidup. Nelma Fernandes (23), salah seorang warga kota, mengakui mencari pasangan merupakan hal yang hampir mustahil untuk para perempuan kota ini.

"Di sini, pria yang bisa ditemui para gadis lajang jika tidak sudah menikah atau berkerabat dengan kami. Saya belum pernah mencium seorang pria," kata Nelma.

"Kami semua bermimpi untuk jatuh cinta dan menikah. Namun, kami juga suka tinggal di sini dan tak mau meninggalkan kota hanya demi mencari suami," lanjut dia.

Kekurangan pria lajang kini membuat komunitas para perempuan cantik itu mengajak para pria, yang tentu saja bersedia beradaptasi dengan dunia perempuan, untuk tinggal di kota kecil itu.

"Kami ingin tahu pria yang ingin meninggalkan kehidupan mereka dan menjadi bagian dari kami. Namun, pertama kali mereka harus setuju menuruti perintah kami dan hidup sesuai aturan kami," kata Nelma.

Meski sudah lama membubarkan gereja yang dirintis pendeta Anisio, para perempuan kota ini merasa mereka tak pernah ditinggalkan Tuhan.

"Kami memiliki Tuhan di dalam hati kami. Namun, kami pikir kami tak perlu pergi ke gereja, menikah di hadapan pendeta, atau membaptis anak-anak kami. Semua adalah aturan yang dibuat para pria," kata Rosalee Fernandes (49).

Rosalee yakin dalam banyak hal perempuan jauh lebih baik dibanding para pria. Dia mengatakan, di tangan para perempuan, kota Noiva do Cordeiro jauh lebih cantik, lebih terorganisasi, dan lebih tenteram dibanding jika kota itu dikelola para pria.

"Saat menghadapi masalah, kami memecahkan masalah dengan cara perempuan. Kami mencari konsensus dan bukan konflik," lanjut Rosalee.

"Kami berbagi semua hal, bahkan tanah tempat kami bekerja. Tak ada kompetisi di antara kami. Semua dilakukan demi kebersamaan," tambah dia.

Pada saat-saat senggang, para perempuan ini mengisinya dengan bergosip atau saling mencoba pakaian baru atau saling menata rambut.

"Bahkan, baru-baru ini kami patungan membeli TV layar lebar sehingga kami bisa menonton opera sabun bersama," kata Rosalee.

Kehidupan di Noiva do Cordeiro memang menyenangkan dan nyaris tanpa kekurangan. Satu-satunya kekurangan yang dirasakan para perempuan itu adalah kehadiran para pria yang menyayangi mereka.


11.37 | 0 komentar | Read More

Rumah Karaoke Syahrini Disegel Gara-gara Ini

Rumah Karaoke Syahrini Disegel Gara-gara Ini

Tribun Jakarta/JEPRIMA

Penyanyi Syahrini saat ditemui pada konferensi pers SCTV Music Awards 2013 di SCTV Tower, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (24/4/2013). SCTV Music Awards 2013 akan disiarkan secara langsung di SCTV pada 29 April 2013 pukul 19.30 WIB dengan memberikan sebanyak 13 Award untuk 13 Kategori.

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Pihak Syahrini enggan memberikan komentar perihal penutupan salah satu rumah karaokenya yang terletak di City Mall, Tangerang, Banten.

Sang manajer, Rendy enggan angkat bicara akan masalah yang menimpa pelantun 'Jangan Memilih Aku' itu.

"Saya enggak mau komentar," ungkap Rendy, saat dihubungi, Kamis (28/8/2014).

Penutupan Karaoke KTV Princess Syahrini itu sendiri dilakukan karena dianggap telah melanggar empat Peraturan Daerah (Perda) sehingga izin yang dikeluarkan harus bersyarat. Tempat usaha tersebut dianggap telah menyalahi Perda No 7 tahun 2005 tentang Larangan Penjualan Minuman Beralkohol di Kota Tangerang, Perda No 7 tahun 2010 tentang Pajak Daerah, Perda No 17 tahun 2011 tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin Gangguan, serta Perda No 6 tahun 2011 tentang Ketertiban Umum.

Pernyataan di atas sehubungan dengan disegelnya tempat tersebut oleh aparat Satpol PP dan Polres setempat karena terdapat keributan pada Rabu (20/8/2014) pukul 20.30 WIB.

Ketika itu petugas yang memeriksa tempat karaoke, pengelola kedapatan menjual aneka minuman keras. Bahkan petugas menemukan sebanyak 830 botol minuman keras yang dijual dengan berbagai merek dan ukuran yang mengandung alkohol tinggi.


11.37 | 0 komentar | Read More

Hello Kitty Bukan Seekor Kucing

BANGKAPOS.COM — Sanrio, pemilik merek Hello Kitty, terang-terangan membantah bahwa produk itu bukan seekor kucing. Warta AFP pada Kamis (28/8/2014) mengatakan, bantahan Sanrio itu berangkat dari komunikasi di media sosial. Salah satu catatan di media sosial itu mengatakan bahwa Hello Kitty punya produk makanan kucing.

"Hello Kitty adalah perempuan kecil yang bahagia dan ceria serta berhati emas," begitu pernyataan resmi perusahaan asal Jepang tersebut.

Tak dimungkiri banyak khalayak, nama Hello Kitty menempel di berbagai produk mulai dari pensil hingga piyama.

Adalah Christine Yano, pakar antropologi dari Universitas Hawaii, yang mengaku mendapat koreksi dari Sanrio ihwal Hello Kitty. Di dalam salah satu tulisannya, ia mengatakan Hello Kitty adalah karakter kartun. Dia bukan seekor kucing. Dia tidak pernah berjalan dengan empat kaki. "Dia berjalan dan duduk seperti ciptaan yang memiliki dua kaki," demikian catatan Christine Yano.
 
Sebagai informasi, tahun ini, Sanrio merayakan 40 tahun merek Hello Kitty.


11.37 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger