Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Riausilip Usulkan 10 Desa Baru

Written By Unknown on Minggu, 19 Januari 2014 | 11.37

Laporan Wartawan Bangka Pos, Edwardi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Tokoh masyarakat Riausilip, Paiman mengatakan pihaknya sudah melaksanakan pertemuan sebanyak 5 kali dan saat ini sudah ada sekitar 30-an proposal usulan pemekaran dusun baru dalam bentuk soft copy (belum dicetak), yang diharapkan bisa berkembang menjadi 10 desa baru.

"Ke depan dengan adanya 10 desa baru, Kecamatan Riausilip ini bisa dimekarkan menjadi dua kecamatan, konsepnya dari Desa Pugul ke arah Deniang menjadi kecamatan baru, sedangkan dari perbatasan Pugul ke arah Pangkalniur tetap menjadi Kecamatan Riausilip yang lama," kata Paiman dalam pertemuan siilahturahmi dengan pengurus FMBU di rumah dinas Camat Riausilip, Sabtu (18/1/2014).

Diungkapkannya, dalam rancangannya sudah dikonsep, mana saja dusun-dusun dan desa yang masuk menjadi kecamatan baru, dan juga kecamatan yang lama, sudah dibuatkan pemetaannya dan tinggal melakukan sosialisasi dengan elemen masyarakat di bawah.

"Pada dasarnya kalau kita lihat saat ini kebanyakan masyarakat sudah mengetahui rencana pemekaran ini dan mereka sangat setuju dan mendukung langkah yang akan kita tempuh ini," tukas Paiman.

Sementara Heru, Ketua FMBU sangat menyambut baik  kalau memang semua usulan pemekaran dusun baru itu sudah terkonsep dengan baik.


11.37 | 0 komentar | Read More

Miko Asik Main Layangan di Areal Pekuburan

Miko Asik Main Layangan di Areal Pekuburan

Bangkapos.com/Edi Yusmamto

Miko, seorang bocah bermain layangan di sekitar Prkuburan Setya Mulya Tanjungpandan Kabupaten Belitung. di Tanjungpandan, Belitung, Minggu (19/1/2014).

Laporan Wartawan Pos Belitung, Edi Yusmanto

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Bagi sebagian besar orang lokasi pekuburan menjadi tempat yang sakral. Namun bagi Miko dan kawan-kawan, lokasi itu menjadi berbeda.

Mereka memanfaatkan lokasi ini untuk bermain layangan. Anak-anak berusia dibawah 10 tahun ini tampak lincah berlari-larian melewati deretan makam yang di sekitarnya.

Perlahan tapi pasti, benang layangan terus diulur dan layangan pun melayang ke angkasa. Sembari berteriak kecil, Miko menarik-narik tali nilon karena layangannya sesekali hendak jatuh ke darat.

"Hampir, jatuh," ujar Miko sontak, Minggu (19/1/2014).

Kepada Pos Belitung (Bangkapos.com), mengatakan biasa bermain layangan di kuburan. Ia tidak merasa takut dan kerepotan saat berlarian menghindari pemakaman. "Paling-paling jatuh, karena menabrak makam, tapi main lagi," sebut Miko.


11.37 | 0 komentar | Read More

Erwandi Ikuti Pemakaman Ahmad Tusin

Erwandi Ikuti Pemakaman Ahmad Tusin

bangkapos.com/Edi Yusmanto

Wakil Bupati Belitung Erwandi A Rani beserta warga lainnya menghadiri pemakaman Tusin di Tanjungpandan, Belitung pada Minggu (19/1/2014).

Laporan Wartawan Pos Belitung, Edi Yusmanto

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Raut wajah Wakil Bupati Belitung Erwandi A Rani berubah. Tidak ada senyuman yang seperti biasa ditampilkannya. Ia berdiri tegak tepat di hadapan makam almarhum Ahmad Tusin, Minggu (19/1/2024).

Kendati fokus memperhatikan proses pemakaman, ia masih sempat menerima sapaan sejumlah warga yang datang menghampirinya.

Erwandi dikawal langsung Kasat Pol PP Kabupaten Belitung Alkar. Dia mengenakan peci hitam dikombinasi baju koko paduan hitam garis putih.

Tepat di sebelah kanan, Erwandi yang berjarak empat lima orang, ada sesosok perempuan yang sangat dekat dengan almarhum.

Tidak ada lagi air mata di wajah perempuan berjibab hitam ini. Ia hanya tertegun memgang bungkusan putih di tangannya dan mengapit kait cokelat di lengan kirinya. Proses pemakaman berjalan lancar.


11.37 | 0 komentar | Read More

Polda Babel Amankan 20 Ton Pasir Timah

Laporan Wartawan Bangka Pos, Hendra

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Subdit IV, Direktorat Reskrimsus Polda Babel bersama dengan Polres Bangka berhasil mengamankan 20 ton pasir timah di sekitar Pantai Bedukang, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung (Babel).

Kabid Humas Polda Babel, AKBP Riza Yulianto mengatakan penangkapan dilakukan Sabtu (18/1) sekitar pukul 23.00 WIB.

Sebelumnya, anggota kepolisian mendapat informasi akan ada penyelundupan melalui Pantai Bedukang.

"Informasi itu kita kembangkan dan kita selidiki. Disebuah gudang kita temukan pasir timah sebanyak 502 kampil atau sekitar 20 ton," kata Riza kepada bangkapos.com, Minggu (19/1/2014) .

Dari jumlah tersebut ditemukan juga 46 kampil dibibir pantai. Diduga pasir timah tersebut hendak dimuat ke sebuah kapal dan mau diselundupkan ke luar negeri.

Selain mengamankan barang bukti pasir timah, 9 orang juga turut diamankan. Termasuk Akwet yang mengaku sebagai pemilik pasir timah tersebut.

"Barang bukti dan  9 orang diamankan di Polres Bangka. Dari 9 orang itu, satu orang bernama Akwet mengaku sebagai pemiliknya. Saat bukti dan pelaku diproses di Polres Bangka," ujar Riza.

Simak berita lengkapnya di Bangka Pos/Pos Belitung/Koran BN edisi cetak.


11.37 | 0 komentar | Read More

Kami Wakil Babel

PANGKALPINANG, BANGKA POS - Perlakuan diskriminatif terhadap warga Tionghoa telah berakhir pada era kepemimpinan Presiden KH Abdurrahman Wachid atau biasa disapa Gus Dur. Era Reformasi kala itu membuka pintu selebar-selebarnya bagi warga Tionghoa untuk berekspresi sebagaimana warga negara Indonesia lainnya di berbagai bidang.

Kini panggung politik pun ramai dengan politisi-politisi Tionghoa. Mencuatnya nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Beltim, Senayan hingga kini menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta menjadi bukti bahwa warga Tionghoa yang minoritas itu sebenarnya juga memiliki potensi besar menjadi wakil dan pelayan masyarakat.

Munculnya Ahok menjadi fenomena sendiri. Ia memulai karir sebagai anggota DPRD di Belitung Timur, kemudian dipercaya memimpin Belitung Timur sebagai bupati. Putra Almarhum Indra Tjahaja Purnama ini pernah menjajal sebagai calon Gubernur Bangka Belitung, namun gagal.

Gagal tak mematikan karirnya, Ahok terpilih sebagai anggota DPR RI melalui Partai Golkar. Ambisinya berlanjut ketika dia mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, berpasangan dengan Jokowi dan menanggalkan baju kuning beringin bergabung dengan Partai Gerindra.

Ahok menjadi bagian kisah warga Tionghoa Babel yang sukses dalam karir politiknya. Lantas seperti apa perkembangan politisi Tionghoa Babel di Pemilu 2014, mengapa mereka tertarik di  dunia politik?

Sebenarnya politisi Tionghoa asal Babel bukan hanya Ahok. Masih ada sederat nama lain yang kiprahnya juga mentereng di kancah perpolitikan nasional. Sebut saja Rudianto Tjen di DPR RI, sementara dua lainnya, Bahar Buasan dan Tellie Gozelie kini duduk di DPD RI.
Ketiganya dipastikan akan kembali turun gelanggang di Pemilu bulan April 2014 nanti dengan pilihan langkah politik yang masih sama.

Di tahun 2014, Bangka Pos mencatat, dari Daftar Calon Tetap (DCT) Legislatif  yang dirilis KPU RI, ada tiga politisi Tionghoa asal Babel yang berkompetisi di DPR RI. Ketiganya adalah Rudianto Tjen dari PDI Perjuangan , Eko Wijaya dari Partai Demokrat, dan Hermanto dari Hanura. Sedangkan Tellie Gozelie, Bahar Buasan dan Agung Setiawan bersaing bersama calon asal Babel lainnya untuk duduk di kursi DPD RI.

Rudianto Tjen yang sudah dua periode duduk di Senayan sebagai anggota DPR RI, kembali mencalonkan diri. Politisi senior di PDI Perjuangan ini, berada di nomor urut 1.
"Saya merasa kita harus mengambil peran untuk mengurusi negara ini, menyampaikan aspirasi masyarakat. Itu alasan saya kembali mencalonkan diri," kata Rudianto Tjen, Sabtu (18/1).

Rudianto Tjen menegaskan, dirinya bukanlah wakil masyarakat Tionghoa. "Ketika saya menjadi anggota DPR RI, saya bukan mewakili warga Tionghoa, tetapi mewakil Babel," ujarnya.

Sosok yang pernah gagal mencalonkan diri menjadi Bupati Bangka ini cukup berpengalaman. Sejak tahun 90-an, dia sudah terjun ke politik praktis.

Menurut dia, saat ini perkembangan politisi Tionghoa cukup baik. "Dulu orang Tionghoa begitu dikebiri hak-hak politiknya pada zaman Soeharto. Sekarang ini sejak reformasi mungkin menjadi momentum," kata Rudianto.

Saat ini perkembangan politik warga Tionghoa di Babel semakin menguat. Apalagi sikap toleransi terhadap pluarisme terjaga dengan baik di daerah ini.

"Pada dasarnya, setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam hal politik tanpa mengenal suku dan agama," kata Ketua DPD Partai Demokrat Bangka Belitung, Eko Wijaya, terpisah.

Eko Wijaya menjadi satu caleg yang patut diperhitungkan oleh seluruh caleg DPR RI Dapil Babel, termasuk Rudianto Tjen. Anak muda yang sebelumnya banyak diragukan ternyata menjelma menjadi politisi handal di Demokrat.

Sejak kehadirannya, putra pengusaha Aliong Elvis ini berhasil menegakkan Partai Demokrat pada treknya paska era Zulkarnain Karim.

Eko Wijaya mampu mengendalikan mesin partai berlambang bintang mercy dengan baik. Sejumlah terobosan dalam rangka rekonsiliasi di tubuh Partai Demokrat di Babel berhasil dilakukannya.

"Saya membangun Partai Demokrat layaknya rumah sendiri. Kepengurusan hingga daerah saya perkuat," katanya.

Eko Wijaya tidak punya target muluk. "Saya ingin memberikan bukti kalau anak muda dapat menjadi orang yang berguna," ujar sosok yang baru berusia 33 tahun ini.

Menurut dia, pilihan menjadi calon legislatif untuk lebih memperjuangkan Babel.

"Saya tidak mencari pekerjaan sebagai politisi. Pendapatan saya akan saya berikan kepada seluruh warga. Target saya ingin bagaimana Bangka Belitung dapat diperjuangkan lebih maksimal," tandasnya.

Eko Wijaya menilai banyak persoalan Babel yang butuh penyelesaian oleh pemerintah pusat. Jika masyarakat asal memilih wakil rakyat akan berdampak pada pembangunan.
"Masyarakat sebenarnya bisa menilai dan mengevaluasi yang sudah ada saat ini," katanya.
 
Usung perubahan

Selain Eko Wijaya, muka baru yang juga muncul dalam daftar caleg Tionghoa Babel untuk DPR RI kali ini adalah Hermanto atau lebih dikenal dengan nama Aliong. Dalam dua tahun terakhir ini, Aliong terus mencari jati diri politiknya.

Paska gagal dicalonkan menjadi Wali Kota Pangkalpinang, Aliong memilih DPR RI menjadi tambatan berikutnya. Sejumlah manuver ia lakukan, termasuk mengambil posisi sebagai ketua pada organisasi kemasyarakatan bernama Persatuan Indonesia (Perindo).

"Saya ingin mewujudkan perubahan, Bangka Belitung yang lebih mandiri. Menurut saya, sampai saat ini kita belum merdeka," kata Aliong.

"Permasalahan bangsa ini karena kita dikendalikan asing. Saya ingin merubah itu. Untuk merubah itu harus bisa masuk mengambil peran," ujar Aliong.

Harapan yang sama diungkapkan calon anggota DPD RI, Agung Setiawan atau akrab disapa Acung. Ia ingin mengambil peran di DPD RI untuk memperbesar pengaruhnya bagi daerah.

"Kita ingin merubah, kita harus memperjuangkan itu hingga ke pusat. Banyak hal yang bisa kita perjuangkan," ujar anggota DPRD Bangka ini.

Beragamnya alasan, menjadi tujuan para politisi Tionghoa maju ke pentas politik. Tapi, apakah para politisi Tionghoa ini masih dipercaya atau tidak menjadi wakil rakyat?
Tokoh warga Tionghoa Pangkalpinang, Halim Susanto mengingatkan para politisi Tionghoa untuk bekerja dengan baik.

"Jika sudah dipercaya rakyat, harapan kita adalah mereka dapat bekerja dengan baik, memihak rakyat dan menjaga nama baik warga Tionghoa," kata Halim Susanto.
Ia menegaskan, apa yang dilakukan oleh politisi Tionghoa, baik atau buruk, juga akan sangat berpengaruh terhadap kerukunan umat. Karena menurut Halim Susanto, pada dasarnya masyarakat Bangka Belitung selama ini hidup dalam keberagaman. (tea)


11.37 | 0 komentar | Read More

Menimbang Peluang

News Analysis: Anugra Bangsawan, Peneliti LIDAL

TIONGHOA dalam dinamika politik lokal paska reformasi ditandai dengan menguatnya politik identitas dalam setiap ruang pemilihan di ranah lokal (electoral elections).
Pergeseran perilaku politik tersebut berkorelasi positif dengan menjamurnya masyarakat Tionghoa dalam partai politik (parpol) maupun perseorangan dalam mendulang simpati pemilih. Demikian juga halnya menghadapi Pemilu, 9 Aril 2014 dalam waktu dekat ini.

Fenomena menguatnya politik identitas tersebut boleh jadi terinspirasi sukses Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang memenangkan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Belitung Timur tahun 2005 lalu.

Tampilnya Ahok sebagai bupati pertama di Indonesia yang berasal dari  Tionghoa sekan berbanding lurus dengan kiprah politisi seperti Rudianto Tjen (DRP RI), Bahar Buasan dan Tellie Gozelie (DPD RI) dalam Pemilu 2009 lalu.

Pertanyaannya, bagaimana perilaku pemilih masyarakat di Bangka Belitung pada umumnya? Sejauhmana peluang mereka dalam Pemilu 2014 mendatang?
 

Sebagai hajatan akbar rakyat, yang menarik perhatian dalam proses pemilu adalah perilaku pemilih sebagai stakeholder (pemegang saham) yang akan menjadi penentu voter is determinator kemenangan dan kekalahan seorang caleg dalam pemilu.

Karakteristik pemilih semacam apa yang terdapat dalam masyarakat, apakah emotional voters atau rational voters?

Memahami perilaku pemilih dalam pemilu sangat dipengaruhi tiga pendekatan klasik, dan satu pendekatan modern yaitu political marketing. Namun sejauhmana diantara pendekatan tersebut berpengaruh sangat ditentukan oleh aspek situasi politik yang berkembang saat itu.
Adapun keempat pendekatan perilaku pemilih yang dimaksud adalah:
Pertama, pendekatan sosiologis menganggap bahwa setiap mamusia terikat dalam lingkaran sosialnya, semisal keluarga, rekan-rekan, tempat kerja dan lain sebagainya.  Jelasnya, keputusan sesorang dalam memilih kandidat lebih didorong oleh faktor kesamaan latar belakang agama, etnis, tempat tinggal, kelas sosial.
Kedua, pendekatan sosial psikologis menerangkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi keputusan dalam memilih kandidat lebih didorong oleh trias determinan, yakni identifikasi partai, orientasi kandidat dan orientasi isu politik.
Ketiga, pendekatan rasional-choice. Menurut model ini, yang menentukan dalam sebuah pilihan sangat dipengaruhi penilaian warga yang cakap. Pusat perhatiannya terletak pada perhitungan biaya dan manfaat (cost and benefit). Pemilih rasional lebih mempertimbangkan ketokohan, kandidat berupa kualitas, kemampuan, pengalaman serta jejak rekam (track record) dalam menentukan pilihannya. Sebaliknya, jika dalam penilaian pemilih tersebut tidak ada yang mendekati keinginannya, maka yang bersangkutan cenderung memilih untuk tidak memilih (golput).
Keempat, pendekatan political marketing. Menurut model ini, pilihan politik seseorang sangat dipengaruhi faktor pencitraan dan pemberitaan media. Pemilih lebih tertarik dengan tokoh tingkat pengenalan secara publik lebih unggul dari tokoh lainnya.
Dalam kaitan tersebut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mengurai, di Bangka Belitung komposisi penduduk berdasarkan etnisitasnya terbesar adalah Melayu Bangka dan Melayu Belitung sekitar 69 persen. Tionghoa dengan populasi 11 persen.  Selain itu, ada Jawa (6 persen), Bugis-Makassar (3 persen), Madura, dan sejumlah suku lain.
Sekalipun dari sisi kuantitas proporsi setiap etnik berbeda, praktik kesetaraan tidak tersingkirkan. Tampilnya sosok politisi pilihan masyarakat beretnik Tionghoa di DPR, seperti Rudianto Tjen dan Basuki Tjahaja Purnama, serta di Dewan Perwakilan Daerah seperti Tellie Gozelie dan Bahar Buasan, atau dalam kursi kepemimpinan lokal, seperti Bupati Belitung Timur Basuri Tjahaja Purnama, mengukuhkan terbukanya kesetaraan itu, sekaligus memorakporandakan konsep proporsionalitas politik yang umumnya dipraktikkan.
Terpilihnya sosok politisi beretnik Tionghoa tergolong alami dari hasil kalkulasi rasional pemilihnya dalam sejumlah ajang kontestasi politik. Pemilih mereka tidak semata-mata berasal dari kesamaan etnik atau agama.

Peluang

Dengan menjamurnya politisi Tionghoa dalam Pemilu 2014 mendatang tidak menjamin semakin besar peluang mereka untuk duduk di kursi parlemen lokal maupun nasional.
Pilihan politik masayarakat pada umumnya sangat ditentukan oleh faktor dominan ketokohan di masyarakat. Meski dominan menguasai bidang ekonomi, yang otomatis lebih percaya diri dengan kemampuan finansial, namun bukan menjadi jaminan mampu mendulang suara sebanyak mungkin.
Kepiawaian dalam bidang sosialisasi bermasyarakat, dan keunggulan dalam karya nyata yang  didukung persepsi positif masyarakat menjadi kata kunci untuk mengulangi sukses pada Pemilu 2009 lalu. Singkatnya, masyarakat mendambakan kehadiran tokoh yang tidak hanya dipilih berdasarkan faktor etnis dan agama, namun kemampuan dan karya nyata dalam melakukan perubahan besar dalam pembangunan yang berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat. (tea)


11.37 | 0 komentar | Read More

Pengungsi Letusan Sinabung Terus Bertambah

Written By Unknown on Sabtu, 18 Januari 2014 | 11.37

BANGKAPOS.COM, LANGKAT - Jumlah warga pengungsi akibat erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, yang berdatangan ke lokasi pengungsian di Desa Telagah Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat, Sabtu (18/1/2014) terus bertambah.

"Ada penambahan pengungsi yang datang dari Tanah Karo," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Langkat Hardianul Zally di Stabat, Sabtu.

Berdasarkan data yang ada, jumlah pengungsi Sinabung bertambah dari 608 jiwa menjadi 652 jiwa. "Terjadi penambahan pengungsi sebanyak 44 jiwa, yang terdiri dari anak-anak, orang tua, maupun juga lansia dan remaja," ujarnya.

Hardianul Zally menjelaskan bahwa sekarang ini jumlah pengungsi secara keseluruhan ada 200 kepala keluarga, dengan perincian 345 jiwa laki-laki dan 307 jiwa perempuan.

Menyangkut dengan kebutuhan logistik bagi para pengungsi hingga sekarang ini, ia mengatakan masih tetap aman, dan terus tersedia. Pasalnya Pemerintah Kabupaten Langkat, swasta, maupun perorangan terus memberikan perhatian dan bantuann berbagai bahan kebutuhan pokok bagi pengungsi.

Selain itu, posko kesehatan yang ada di lokasi pengungsian juga terus melakukan aktivitasnya memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh warga pengungsi yang berada di sana.

Secara terpisah Kepala Desa Telagah Kecamatan Sei Bingei Suranta Sitepu yang dihubungi menjelaskan bahwa sekarang ini sebanyak 30 pelajar sekolah dasar, sekolah menengah pertama warga pengungsi gunung Sinabung butuh pakaian dan peralatan sekolah.

"Mereka membutuhkan pakaian dan peralatan sekolah di lokasi pengungsian," katanya.

Suranta menjelaskan bahwa saat ini para pelajar tersebut tidak mempunyai pakaian sekolah maupun peralatannya, sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan tersebut agar bisa bersekolah seperti siswa yang ada.

Hingga sekarang ini tidak diketahui secara pasti sampai kapan mereka berada di lokasi pengungsian, namun agar mereka tetap terus belajar harus bersekolah di sekolah yang ada di Kecamatan Sei Bingei ini.

Adapun kebutuhan pakaian dan peralatan untuk para pelajar ini, ia mengatakan terdapat 10 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan untuk tingkat pendidikan sekolah dasar.

"Sementara untuk tingkat sekolah pertama terdiri dari lima laki-laki dan lima perempuan," ujarnya.

Suranta Sitepu sangat berharap adanya bantuan secepatnya buat mereka agar mereka bisa bersekolah seperti siswa lainnya yang ada di Desa Telagah.

"Mereka sangat menantikan bantuan itu, karena memang sangat dibutuhkan oleh para pelajar," katanya.


11.37 | 0 komentar | Read More

Gede Pasek: Saya Dianggap Menusuk Pak Yudhoyono

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Gede Pasek Suardika mengaku heran dipecat Partai Demokrat (PD) baik sebagai kader maupun sebagai anggota DPR. Dia menolak tudingan telah 'menusuk' alias mengkhianati sang pendiri sekaligus Ketua Umum PD, Susilo Bambang Yudhoyono.

Beberapa hari lalu, DPP PD mengirim surat ke Sekjen DPR untuk 'menarik' salah seorang loyalis mantan Ketua Umum PD Anas Urbaningrum melalui mekanisme pergantian antarwaktu (PAW).

"Kalau saya dianggap menusuk Pak Yudhoyono, coba lihat kinerja saya di DPR. Mana lebih aktif, saya atau orang terdekat beliau (Yudhoyono) di DPR. Kan begitu cara mengukurnya," kata dia di gedung DPR, Jakarta, Jumat (17/1).

Menurut Pasek yang menjabat Sekjen Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI, ormas yang didirikan Anas), untuk mengukur kesetiaan kader parpol dan anggota DPR, caranya sederhana yaitu  dilihat dari kinerja di parlemen.

"Ukurlah melalui kinerja. Jangan hanya memanjangkan lidah saja (menjilat) tetapi tidak bekerja. Jadi cara ukurnya harus jelas. Rasanya tidak ada kata-kata yang dikatakan menusuk perasaan (Yudhoyono)," tegas mantan ketua Komisi III DPR ini.

Pasek juga tidak sependapat anggapan bahwa 'kedekatannya' dengan Anas dapat menurunkan elektabilitas partai. "Mana tindakan dan perbuatan  saya yang bisa menurukan elektabilitas partai. Setahu saya, yang mengusulkan Pak Yudhoyono sebagai ketua umum PD itu saya," ujar dia.

Dukungan diberikan aktivis PPI, Tri Dianto. Dia yakin pemecatan itu justru lebih menguatkan PPI karena Pasek bisa fokus di ormas itu. Selama Pasek masih aktif sebagai anggota legislator, PPI mendapat perhatian dari berbagai kalangan.

"Sekarang sudah tidak aktif di DPR, pasti Mas Pasek lebih getol di PPI," katanya.

Pasca-pemecatan itu, kata Tri, Pasek dalam keadaan sehat. "Tidak ada masalah. Tidak terlihat syok kok," tegas mantan ketua DPC PD Cilacap, Jateng ini.

Sementara Wakil Ketua Umum PD Max Sopacua menilai pemecetan terhadap Pasek wajar dilakukan. Dia mengatakan Pasek 'terlalu dalam' terlibat di PPI yang selama ini dikenal publik sebagai ormas yang berseberangan dengan PD.

Menurut Max, meskipun Anas tetap mengendalikan PPI dari dalam penjara, Pasek selaku sekjen akan menjadi motor organisasi. Selain itu, selama ini Pasek tidak sekadar berteman dengan Anas sebagaimana kader lain seperti Saan Mustofa, Michael Wattimewa dan Umar Arsal.

"Mereka sebatas berteman. Itu sah-sah saja. Sementara Pasek ingin head to head dengan Demokrat, kesannya seperti itu," tegas dia.

Pemecatan Pasek disampaikan dalam rapat FPD yang dipimpin Nurhayati Assegaf. Pasek telat datang sekitar 10 menit. Usai menandatangani daftar hadir, dia menyalami seluruh rekannya dari FPD yang ikut rapat. Melihat itu ada seorang anggota yang menyelutuk: Memang mau ke mana, Sek? Mendengar itu Pasek hanya tersenyum.

Kepada pers, Nurhayati mengatakan pemecatan itu dikarenakan Pasek telah melanggar melanggar pakta integritas yang ditandatangani seluruh kader PD.

"Saya diberi surat oleh DPP. Disebutkan Pasek sudah melanggar fakta integritas dan kode etik. Soal pemberhentian atau penggantian adalah hak DPP. Kalau ada kader sudah menyimpang atau melanggar kode etik, tentu DPP bisa mengeluarkannya. Partai adalah institusi yang bisa menegakkan proses demokrasi," ujarnya.


11.37 | 0 komentar | Read More

Ombak Besar, KUPPP Manggar Larang Kapal Berlayar

Laporan wartawan Pos Belitung, Rusmiadi

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Kantor Unit Pelaksana, Penyelenggara Pelabuhan (KUPPP) Kelas I Manggar mengelurkan surat peringatan, agar kapal di pelabuhan di wilayah kerja KUPPP I Manggar tidak berlayar, karena kondisi ombak besar di hampir seluruh perairan Indonesia.

"Sejak beberapa hari yang lalu, kami sudah keluarkan peringatan agar kapal tidak berlayar, dari pelabuhan di wilayah kerja kami. Data cuaca yang kami terima dari BMKG setiap hari, ombak besar dan angin kencang masih terjadi hingga Senin nanti," ungkap Ruslan Kasi Kesyahbandaran, KUPPP Kelas I Manggar, saat dihubungi bangkapos.com, Sabtu (18/1/2014).

Ruslan menyebutkan laporan yang di terima dari BMKG, ombak besar diperairan laut terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, paling tinggi ombak di perairan laut bagian timur.

"Kondisi cuaca buruk diperairan laut saat ini, lebih parah dibandingkan dengan akhir Desember hingga awal Januari lalu. Oleh sebab itu, diharapkan nelayan untuk tidak turun ke laut, baik kapal nelayan yang dalam pengawasan kami, maupun kapal nelayan dibawah 6 GT," ujarnya.


11.37 | 0 komentar | Read More

Ini Cara Cerdas Michelle Obama Samarkan Penuaan

BANGKAPOS.COM - Ibu negara Amerika Serikat, Michelle Obama berulang tahun ke-50 pada tanggal 17 Januari lalu. Meski begitu cukup banyak orang tak mengira wanita yang selalu tampil menawan ini sudah berusia hampir setengah abad.

Michella memang pintar menata penampilannya. Ibu dua anak ini tak menampik jika ia bertambah tua, dan ia merasa bersyukur karena ia masih aktif dan memiliki jiwa muda.

Jika bicara masalah penampilan, Michelle termasuk dalam sosok yang stylish. Ingin tahu bagaimana ia membuat penampilannya tampak lebih muda dari usia sebenarnya?

- Sering gonta-gonti model rambut, terkadang ia tampil dengan rambut bob lurus, di lain waktu ia memilih potongan layer, bahkan potongan rambut pendek.

- Michelle juga sering mengenakan busana yang menampilkan lengan kencangnya, hasil latihan olahraga rutin yang dilakukannya.

- Bukan hanya busananya yang ia perhatikan, alas kaki pun tak luput dari perhatian. Ia terkenal gemar memakai sepatu berwarna-warni, tak mululu warna hitam yang formal. Beberapa kali Michelle bahkan tampil mengenakan sneaker.

- Ibu Negara yang satu ini juga tak segan mengupload foto selfie-nya.

- Michelle juga memiliki perhatian pada detail, ia antara lain senang bereksperimen dengan warna cat kuku.

- Meski usianya tak bisa dibilang muda, toh Michelle cukup pede untuk mengenakan jaket kulit.

- Michelle dan suami, Presiden Obama, terkenal akan spontanitasnya dalam memperlihatkan kemesraan mereka di depan publik. Tak kalah dengan pasangan yang baru satu atau dua tahun menikah.

- Sebagai pecinta fashion, Michelle juga menyukai aksesoris.


11.37 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger